Halaman

Jumat, 12 Oktober 2012

Aku memang pernah jatuh

Jalan yang kukira mulus, ternyata tak ayal terhalang jua. Banyak kerikil, bahkan batu yang menghalang.

Awalnya aku yakin, aku bisa menyingkirkan kerikil itu, aku yakin aku bisa menyingkirkan batu itu.


Namun apa boleh buat, di tengah jalan itu duri yang menancap tak bisa ku singkirkan. Langkahku terhenti. Aku merunduk lesu, tak berdaya. Sakitnya duri itu hanya bisa ku rasakan tanpa bisa aku mencoba mencabutnya.
Aku telah jatuh. Aku telah kalah. Permainan telah usai. GAME OVER.
Saat itu aku mencoba berpikir, bagaimana mencabut duri itu?
Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba mencabutnya dengan sisa tenaga yang ada.

Ku pegang duri itu, lalu ku tarik. Aku berteriak "SAKIIITTTTT". ya, memang sakit sekali. Namun aku tahan, dan ternyata duri itu kini tlah tiada. Aku coba untuk berdiri. Perlahanku coba untuk berjalan menyusuri jalan yang tersisa. Namun aku rasa ada yang aneh. "Apa ini?" pikirku. ternyata bekas luka. Ku coba menghilangkannya, kubasuh dengan air, kusiram dengan debu, namun masih tetap ada. Bekas luka ini memang takkan pernah sirna. Walau durinya tlah tercabut, namun bekasnya akan tetap terasa.

Aku memang harus menyelesaikan jalan itu. Perlahan namun pasti. Akan kulalui jalan yang di depan mataku. Meski aku pernah terjatuh, aku takkan putus asa. Kerikil dan batu, bahkan duri yang ada, akan memperkuat langkahku. Mereka bukan penghalang, namun mereka adalah kekuatan. Kekuatan untukku memperbaiki setiap langkahku.

2 komentar:

  1. Keren (y)
    Jangan lupa kunjung balik di http://adreanmanggam.blogspot.com

    BalasHapus
  2. siiip... makasih yaa :D iseng-iseng ini

    BalasHapus