Laman

Rabu, 28 November 2012

dasar-dasar sintaksis



DASAR-DASAR SINTAKSIS
Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Linguistik Umum




Disusun oleh :
Habibatus Sa’diyah 120211413444
Mimin Ernawati 120211413453
Ryan Yuli Purnami 120211413470
Gustiana Putri 120211413490



FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

November 2012



DASAR-DASAR SINTAKSIS
            Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas kalimat dan proses pembentukannya.. Dalam pembahasan sintaksis yang dibicarakan adalah (1) analisis sintaksis, (2) satuan sintaksis, (3) alat-alat sintaksis.
A.     ANALISIS SINTAKSIS
            Ada tiga cara menganalisis kalimat, yaitu dengan melihat fungsi sintaksis, kategori sintaksis, dan peran sintaksis. Fungsi sintaksis yaitu keterkaitan struktural antarkata atau frasa dalam kalimat. Fungsi-fungsi sintaksis itu berkenaan dengan unsur-unsur subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Analisis kalimat berdasarkan kategori mengacu pada kategori frasa yang menduduki fungsi-fungsi sintaksis tersebut. Kategori sintaksis berkenaan dengan istilah nomina, verba, ajektifa, numeralia, preposisi, dan konjugasi. Sementara itu, analisis kalimat berdasarkan peran mengacu pada makna pengisi fungsi-fungsi sintaksis. Unsur peran ini berkaitan dengan makna gramatikal/sintaktis.
            Fungsi-fungsi sintaksis yang terdiri dari subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K) itu merupakan “kotak kosong” yang tidak memiliki arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peran tertentu. Contoh :
(1)   Ryan membantu Mimin tadi malam
            Tempat kosong yang disebut Subjek ditempati oleh kata Ryan yang berkategori nomina (menyatakan benda atau yang dibendakan) dan memiliki peran ‘pelaku’, tempat kosong yang disebut Predikat ditempati oleh kata membantu yang berkategori verba (menyatakan tindak atau perbuatan) dan memiliki peran ‘tindakan, serta tempat kosong yang disebut keterangan diisi oleh frasa tadi malam yang berkategori nomina dan memiliki peran ‘waktu’.
            Untuk lebih jelasnya, perhatikan tabel berikut :
Kalimat
Ryan
membantu
Mimin
tadi malam
Fungsi
Subjek
Predikat
Objek
Keterangan
Kategori
Nomina
Verba
Nomina
Nomina
Peran
Pelaku
Tindakan
Penerima
Waktu

B.     SATUAN SINTAKSIS
1.      Frasa
            Frasa merupakan satuan sintaksis terkecil yang merupakan pemadu kalimat. Ada beberapa pendapat yang menyatakan pengertian frasa yang berbeda-beda. (Sumadi, 2009), menyatakan bahwa frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas satu kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi. (Abdul Chaer , 2007) menyatakan bahwa frasa adalah gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis dalam kalimat. Dari pengertian tersebut, Abdul Chaer menyimpulkan bahwa frasa itu pasti terdiri lebih dari satu kata. Perhatikan tabel berikut :

Fungsi sintaksis
Subjek
Predikat
Objek
Keterangan
Frasa
Adik saya
sedang membaca
buku sejarah
di kamar tidur
Adik
membaca
buku
Kemarin
            Menurut (Sumadi, 2009), kata Adik, membaca, buku, dan kemarin, juga merupakan frasa. Karena masing-masing kata tersebut menempati satu fungsi sebagai S, P, O, dan Ket, meskipun satuan gramatik itu terdiri atas satu kata.
2.      Klausa
            (Chaer , 2007), menyatakan bahwa klausa merupakan runtunan kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa frasa yang berfungsi sebagai predikat dan yang lain berfungsi sebagai subjek, objek, dan sebagainya. Selain fungsi predikat yang harus ada dalam konstruksi klausa itu, fungsi subjek boleh dikatakan wajib ada, sedangkan yang lain bersifat tidak wajib. Konstruksi kamar tidur bukan merupakan klausa karena tidak bersifat predikatif. Sedangkan konstruksi Putri tidur merupakan klausa karena hubungan komponen Putri dan komponen tidur bersifat predikatif. Putri sebagai fungsi subjek dan tidur sebagai fungsi predikat.
3.      Kalimat
            (Sumadi, 2009), menyatakan bahwa kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi kesenyapan awal dan kesenyapan akhir yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah selesai atau sudah lengkap.  Dengan definisi ini dapat dikemukakan tiga hal. Pertama, kalimat tidak selalu berupa kelompok kata. Kedua, kalimat tidak selalu mempunyai S dan P. Ketiga, kalimat tidak selalu memiliki arti. Pendapat tersebut sama dengan (Chaer, 2007) yang menyatakan bahwa kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai intonasi.
Contoh:
Assalamualaikum! (kalimat ini tidak memiliki satu pun fungsi sintaksis. Meskipun hanya terdiri atas satu kata dan tidak memiliki satu pun fungsi sintaksis, “Assalamualaikum!” tetap disebut sebagai satu kalimat karena satuan gramatik ini sudah dilengkapi kesenyapan di awal ditandai dengan digunakannya huruf kapital di awal, dan kesenyapan akhir ditandai dengan digunakannya tanda seru (!) di akhir kalimat yang menandakan bahwa kalimat itu sudah selesai atau sudah lengkap.
           
C.     ALAT-ALAT SINTAKSIS
            Alat-alat sintaksis ialah piranti kalimat yang berperan dalam menentukan makna kalimat itu dan atau memberikan informasi kepada penutur (pendengar/pembaca) tentang bagian mana dari kalimat itu yang dianggap penting oleh penutur (pembicara/penulis). Berikut akan dijelaskan mengenai alat-alat sintaksis.
1.      Urutan kata
      Urutan kata ialah letak atau posisi kata yang satu dengan yang lain dalam suatu konstruksi sintaksis. Urutan kata merupakan alat sintaksis karena urutan dapat menjadi faktor yang menentukan makna satuan sintaksis. Urutan kata dalam kalimat dapat menyebabkan perbedaan makna kalimat yang bersangkutan. Contoh :
a.      Makan lagi berarti ‘perbuatan makan itu berulang kembali’
b.      Lagi makan berarti ‘perbuatan makan sedang berlangsung’
Selain mengubah makna, urutan kata kadang mengubah kalimat menjadi tidak berterima. Contoh:
c.       Putri naik kuda, frasa ini berarti Putri yang menaiki kuda dan kuda yang dinaiki Putri. (berterima)
d.      Kuda naik Mimin, frasa ini berarti Kuda yang menaiki Mimin dan Mimin yang dinaiki kuda. (tidak berterima)


2.      Bentuk kata
      Dalam bahasa Indonesia, bentuk kata yang berbeda juga menentukan makna yang berbeda. Umpamanya kalau kata memakan pada kalimat burung itu memakan ular diganti dengan bentuk dimakan sehingga kalimat menjadi burung itu dimakan ular, maka makna kalimat itu menjadi berubah. Kalau dalam bentuk memakan yang melakukan perbuatan makan adalah burung, maka dalam bentuk dimakan yang melakukan perbuatan makan adalah ular. Maknanya akan berbeda pula kalau bentuk dimakan diganti dengan bentuk termakan, sehingga kalimat itu menjadi burung itu termakan oleh ular. Meskipun makna gramatikalnya tetap sama, yaitu yang melakukan perbuatan makan itu adalah ular, tetapi perbuatan itu dilakukan dengan tidak sengaja.
3.      Intonasi
      Intonasi adalah gabungan antara jeda dan nada. Secara terpisah dari intonasi, jeda merupakan alat sintaksis karena jeda dapat menentukan makna satuan gramatik tertentu. Pada tataran frasa, jeda dapat membedakan makna frasa berikut :
(a)   Ryan memakai topi dan kacamata hitam.
(b)   Ryan memakai topi / dan kacamata hitam.
(c)    Ryan memakai topi dan kacamata / hitam.
Frasa topi dan kacamata hitam pada kalimat (a) merupakan frasa yang ambigu atau bermakna ganda. Jika jeda frasa diletakkan sesudah kata topi, seperti pada kalimat (b), maka yang hitam hanya kacamatanya saja. Tetapi, apabila jeda frasa itu diletakkan sesudah kata topi dan kacamata, seperti pada kalimat (c), maka yang hitam adalah keduanya, yaitu topi dan kacamata.
Pada tataran kalimat, jeda dapat menjadi faktor penentu makna kalimat sebagaimana tampak pada kalimat berikut :
(d)   Bapak Ibu Saya pergi ke Surabaya.
(e)    Bapak / Ibu Saya pergi ke Surabaya.
(f)     Bapak / Ibu / Saya / pergi ke Surabaya.
(g)    Bapak Ibu / Saya pergi ke Surabaya.
Kalimat (d) merupakan kalimat ambigu atau bermakna ganda.  Makna kalimat ini menjadi jelas setelah diberi jeda. Apabila jeda kalimat diletakkan diantara kata Bapak dan Ibu seperti tampak pada kalimat (e), maka makna kalimat yang pergi adalah Ibuku. Apabila jeda kalimat diletakkan diantara kata Bapak dan Ibu, diantara kata Ibu dan Saya, serta diantara kata Saya dan pergi, seperti tampak pada kalimat (f), maka makna kalimat yang pergi adalah, Bapak, Ibu, dan Saya. Sedangkan, apabila jeda kalimat diletakkan diantara kata Ibu dan Saya, seperti tampak pada kalimat (g), maka makna kalimat yang pergi adalah Saya.
Sebuah kalimat dengan unsur-unsur segmental yang sama jika diberi intonasi yang berbeda akan berbeda pula maknanya, misalnya kalimat Putri bermain boneka, dengan intonasi deklaratif menjadi kalimat bermodus deklaratif (yang dalam bahasa tulis ditandai dengan tanda titik); dengan intonasi interogatif menjadi kalimat interogatif (yang dalam bahasa tulis ditandai dengan tanda tanya); dan bila diberi intonasi interjektif akan menjadi kalimat interjektif (yang dalam bahasa tulis ditandai dengan tanda seru).
4.      Kata tugas
      Kata tugas adalah kata yang secara leksikal tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, dan di dalam kalimat dia tidak dapat berdiri sendiri. Kata tugas terdiri atas preposisi dan konjugasi.
Contohnya:
      Kata dan dan meskipun yang memang tidak mempunyai makna leksikal, tetapi mempunyai tugas sintaksis: dan untuk menggabungkan dua konstituen, dan meskipun untuk menggabungkan menyatakan penegasan.
      Kata dan tidak mengalami proses morfologi. Kata dan tidak bisa menjadi ber-dan atau men-dan-kan.




DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sumadi. 2009. SINTAKSIS Bahasa Indonesia. Malang:Asai Asah Asuh
Fardani, Arsyad. 2010. Alat Bantu Sintaksis, (Online), http://arsyadfardani.blogspot.com/2010/04/alat-bantu-sintaksis.html diakses pada tanggal 23 November 2012 pukul 11:44
----------. (Online), http://pusatbahasaalazhar.wordpress.com/hakikat-hakiki-kemerdekaan/konsep-konsep-dasar-sintaksis-klausa/ diakses pada tanggal 23 November 2012 pukul 11:37

4 komentar:

  1. engko lek di kopas adek tingkat piye Yan

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. mbk cuma mengoreksi aja... kata sekedar yang benar itu sekadar

    BalasHapus
  4. owh iya ta mbk? makasih tambahan ilmunya

    BalasHapus