Halaman

Minggu, 23 Desember 2012

Sejarah Sastra Novel "Lingkar Tanah Lingkar Air"



Pengarang       : Ahmad Tohari
Penerbit           : LkiS Yogyakarta
Terbit               : cetakan ke-2, 1999
Tebal               : 144 halaman
Periode            : 1990an
            Novel ini menceritakan perjuangan para pemuda yang menyebut dirinya Hizbullah dalam membela tanah air dari penjajahan Belanda. Masalah serius timbul setelah kemerdekaan, banyak organisasi pemuda yang ingin mendirikan negara sendiri karena tidak puas dengan pemerintahan yang ada.
            Suatu hari seorang guru silat yang bernama Kyai Ngumar memerintahkan muridnya, yaitu Amid dan Kiram untuk bergabung membantu tentara RI dalam melumpuhkan pasukan Belanda. Dini hari Amid dan Kiram berangkat menuju Purwokerto, tanpa membawa senjata. Dalam ketidakpahaman dan ketidakmengertian, mereka berdua membantu apa adanya. Singkat cerita tentara RI dapat melumpuhkan Belanda. Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia secara resmi. Hizbullah tidak memiliki musuh lagi, dari peristiwa ini muncul masalah mereka harus meleburkan diri ke dalam tentara republik atau membubarkan diri. Atas anjuran Kiai Ngumar mereka pergi ke Kebumen untuk bergabung dengan tentara Republik. Pagi-pagi ratusan anggota Hizbullah yang memilih melebur ke dalam tentara Republik berhimpun di suatu tepi rel kereta api. Mereka akan diangkut ke Purwokerto untuk dilantik.
            Ketika kereta api mulai mendekat anggota Hizbullah dikagetkan oleh rentetan tembakan yang mengarah ke mereka. Tak ada jalan lain kecuali mempertahankan diri dengan membalas tembakan. Dengan perang kecil ini, para anggota Hizbullah merasa dikhianati entah oleh siapa. Mereka yakin, itu bukan tentara Republik yang sebenarnya, akan tetapi ada pihak dari kalangan pasukan republik yang berkhianat mencantumkan nama pasukan republik. Mereka menduga bahwa penembak itu adalah orang-orang komunis. Ditambah lagi sehari berikutnya tentara Republik menyerang hingga anggota Hizbullah semakin tersingkir. Dari sinilah anggapan pemberontak mulai diberikan kepada mereka. Tidak ada tempat aman untuk berlindung walau di kampung sendiri. Tak ada jalan kecuali menyingkir. Tidak ada yang tahu siapa yang berusaha membuat permusuhan  antara Hizbullah dan tentara RI. Pasukan Hizbullah merasa dihianati. Amid, Kiram, Jun, Jalal dan Kang Suyud akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Darul Islam mereka bergerilya melawan tentara RI.        Kelompok komunis membentuk gerakan siluman yang menyusup ke OPR (Organisasi Perlawanan Rakyat).  Mereka menggunakan nama kelompok Amid untuk melakukan perampokan-perampokan terhadap orang-orang dusun. Rakyat pun mulai ketakutan terhadap kelompok tersebut. Hal ini membuat DI semakin terdesak dan akhirnya pasukan DI harus menyusup ke dalam hutan  untuk bersembunyi, menghindari kejaran tentara RI.
            Akhir Juni 1962, Toyib, seorang DI yang berpangkalan di wilayah Gunung Slamet datang ke tempat persembunyian Amid dan Kiram. Ia membawa berita bahwa Kartosuwiryo, Klifah Darul Islam tertangkap Pasukan Republik, Toyib juga membawa selebaran yang berisi seruan agar para anggota DI/TII meletakkan senjata dan menyerahkan diri dengan jaminan pengampunan nasional yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Dengan perasaan kecewa lantaran semua pengorbanan selama ini yang dilakukannya sia-sia, akhirnya Amid dan kawan-kawan menyerah.        Selama tiga tahun, Amid dan kawan-kawan berusaha membaur dengan masyarakat. Hingga perlahan-lahan mereka bisa diterima masyarakat, meskipun orang-orang komunis sering menyudutkan mereka.
                        Suatu hari terjadi penyerangan yang dilakukan kelompok komunis. Dalam situasi yang mencekam, tentara RI meminta bantuan Amid, Kiram, dan Jun untuk menunjukkan dimana letak persembunyaian kelompok komunis. Tanpa diduga, Karim meminta untuk bergabung dengan tentara RI untuk menggerbek komunis. Permintaan itu dikabulkan oleh komandan tentara RI. Akhirnya setelah tiga tahun tidak menyentuh senjata, Kiram, Amid, dan Jun mulai melakukan pertempuran. Namun dalam pertempuran hebat tersebut, Amid tertembak, hingga akhirnya dia syahid di jalan Allah.
Komentar :
            Novel berjudul Lingkar Tanah Lingkar Air ini berlatar belakang pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dengan pemimpinnya, Kartosuwiryo. Kisah para santri dalam mempertahankan kemerdekaan. Mereka dihadapkan pada pilihan yang sungguh pelik, antara kesetiaan terhadap NKRI dan memilih ukhuwah. Novel ini penuh dengan ketegangan, para pelaku utamanya yang selalu terseret pada permasalahan yang tak pernah diinginkan. Bukan keinginannya sendiri untuk menjadi pemberontak, tetapi ada pihak-pihak yang justru mendorong para pelakunya untuk menyingkir yang kemudian bisa diberikan label pemberontak. Ketika terpaksa jadi pemberontak pun, tak ada celah untuk menyerah. Jangankan mendapatkan ampunan, untuk sekedar menyerahkan diri hidup-hidup saja tidak ada jaminan.   
            Dalam novel Lingkar Tanah Lingkar Air ini, Ahmad Tohari sangat kuat menceritakan tentang suasana pedesaan, Purwokerto, yang diramu dengan suasana belantara hutan jati yang terpencil dan asing. Alur yang digunakan adalah campuran sehingga ceritanya lebih hidup. Pengarang menggunakan latar di Purwokerto dan hutan belantara. Dari segi tata bahasa, penulis begitu cerdas menggambarkan alur yang berubah-ubah namun tetap dinamis, sehingga pembaca mampu memahami isi cerita. Selain itu, penulis member sentuhan bahasa Jawa seperti penggunaan kata sampean dan andum slamet, yang menambah suasana kejawaan.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar